-
...................................................

Saturday, December 6, 2008
Jika Spring tiba...
Winter sudah beranjak menjauh. Kini, yang terlihat adalah daun-daun yang mulai bersemi kembali, bunga2 yang merekah dan buah2 ranum yang siap dipetik. Spring memang terlihat lebih indah dari winter yang terlihat lebih kering, batang2 pohon terlihat keropos dan terlihat nyaris mati, daun2 yang enggan tumbuh dan bunga2 yang tetap bersembunyi...


Seperti sore beberapa waktu lalu, sehari sebelum kakek Raymond pergi ke Melbourne menjenguk cicitnya, kami bertiga makan sore bersama di ruang makannya. Seperti biasa, kakek selalu saja mengeluarkan dan membuatkan makanan2 khas Libanon dan cemilan2 yang tidak biasa untuk lidahku. Namun, bukanlah makan sore (tepatnya Dinner, karena waktu itu sudah pukul 8pm, namun mentari belum juga tenggelam) yang membuatku girang, namun acara petik buah dibelakang rumah kakeklah yang menyenangkan.


Kakek Raymond seperti kakek2 di Indo kebanyakan. Suka menanam dan memelihara pohon2, terutama yang berbuah, dan tentu saja buahnya sebagian besar akan masuk ke perut cucu2nya. Dibelakang rumah kakek ada buah Locus yang bulat kecil berwarna kuning yang sore itu kita petik. Di samping rumahnya ada buah semacam Srikaya namun beda bentuk (kalo srikaya cenderung bundar, buah ini memanjang dan rasanya lebih legit dan ber’semut’ meski persis rasa dasarnya seperti srikaya).


Didepan rumah kakek ada buah yang mirip apel kecil tapi juga mirip nectarine (sampe saat ini selalu lupa menanyakan namanya ke kakek). Kakek Cuma bilang meski buahnya dah banyak keluar dan merah merona minta dipetik, tapi tunggulah sampe bener2 matang dan berwarna kehitaman (alamak, padahal dah seringkali aku metik tanpa sepengetahuan kakek, hiks..hiks..abis daripada diambil orang alias dicuri!!! Ngomong2 soal curi mencuri buah ini, nggak diINdo aja ternyata, suatu sore pas lagi masak, ada mbak2 dan mas2 bule didepan rumah lagi metikin buah..alamaaakkk!!!!)


Ketika spring, pohon2 sepanjang jalan, juga dikampus juga terlihat lebih indah, berwarna-warni. Bisa dalam satu jalan, ada empat warna pohon yang beda, ungu, hijau, kuning dan merah...wuihh indah dech!!! Seorang temen bilang, akan lebih indah lagi kalo autumn karena daun2 dan pohon lebih berwarna-warni lagi...Hm, jadi gak sabar nunggu autumn...Cepatlah berlalu summer yang bikin sumuk ini!!!

with love, yunes : 7:39 PM

0comment

Post a Comment



Thursday, December 4, 2008
Long Holiday....
Setelah sebulan kemaren berkutat dengan assignments, long holiday akhirnya datang juga...Sesuai kalender akademic kampus, long holiday ini bakal dimulai awal bulan ini hingga akhir Februari. Wowww, bayangkan liburnya aja sama panjangnya ma kuliah...

Minggu pertama libur, masih euforia ma malas tuk mikir juga 'beraksi' (he..he..apaan nich??!!). Padahal, sepanjang semester dan nyelesain tugas2, schedule untuk long holiday sudah dibikin dan nempel didinding. Tapi alamaaaaakkkk, kenapa pas libur tiba, gak sedikitpun planning itu tersentuh...hiks..hiks..

Hm, minggu pertama libur, kuawali dengan mengikuti discussion paper yang diadakan oleh OASIS (faith spirit community Flinders) bekerjasama dengan the Australian Humans Rights Commission dan Australian Multicultural Foundation. Diskusi ini mengambi tema “Freedom of Religion and Belief in the 21st Century”.

Diskusi paper ini diikuti oleh beberapa institusi di Australia juga beberapa mahasiswa PhD yang konsen dengan isu2 kebebasan beragama. Paper yang dipersentasikan pun bermacam2 tema, dari Habermas dan pemikiran keagamaannya, Agama dan sains, juga ancaman kebebasan beragama di Vietnam. Yang paling menarik menurutku adalah presentasi dari Sheila, seorang mahasiswa PhD Flinders yang mengangkat isu stereotip Muslim di Australia selama pemerintahan Howard. (Sayangnya saudara2, daku telat submit papernya, jadi dijadwalkan untuk discussion paper taon depan, hm....lah gimana deadlinenya pas bareng ma 3 paper kuliah je..hiks..hiks...)


Foto diambil dari: http://www.flinders.edu.au/oasis/

Menjadi muslim di Australia memang enak-enak susah. Enaknya, Australia cukup menjamin warganya untuk berekspresi menurut keyakinannya. Setiap orang juga cukup tidak peduli untuk meributkan sesuatu yang dianggap tidak penting dan tidak mengganggu dirinya. Namun, persentasi dari Sheila cukup membuka mataku bahwa menjadi minoritas memang selalu terbentur dengan 'kemauan' mayoritas. Menurut riset Sheila, hingga saat ini masih saja ditemukan kasus bagaimana orang2 Muslim di Australia merasa kesulitan untuk mendapatkan rumah. Tentu ini terjadi karena prasangka yang muncul atas banyaknya insiden negatif yang mencoreng wajah Muslim, terutama karena isu terorisme.

Namun, saat ini banyak kalangan di Australia giat mengkampanyekan perlunya interfaith dialogue antar umat beragama. Tentu ini adalah preseden yang baik, karena sebagai minoritas, peluang untuk didengarkan bagi Muslim semakin terbuka lebar. Mengkampanyekan tentang Islam sebagai sahabat semua agama adalah suatu keniscayaan, terlebih bagi Islam yang hidup sebagai minoritas seperti Australia.

Setahun lalu, saya berkesempatan mengunjungi Melbourne, Canberra dan Sydney untuk bertukar informasi dan pengalaman seputar kehidupan beragama di Indonesia dan Australia. Yang membuatku sangat terkesan adalah adanya grup2 diskusi kecil antar agama yang sangat potensial untuk membentuk pemahaman dan toleransi yang baik antar umat beragama. Di Melbourne, ada women conference yang terdiri dari ibu2 tua dari berbagai agama yang berbeda, berdiskusi ttg apa saja, dari prinsip2 dasar agama2 hingga bahasan keseahrian (layaknya pengajian ibu2 di Indonesia, namun dikemas lebih ilmiah dan interaktif). Di Sydney, saya juga menemukan forum interfaith dialogue yang anggotanya lagi2 terdiri dari perempuan (muda dan tua) dari berbagai agama. Dalam forum ini, semua perwakilan agama dijadwalkan untuk mempresentasikan doktrin dasar agama masing2. Sungguh sebuah awalan yang baik untuk menciptakan toleransi dan kehidupan yang harmonis dalam beragama.....

Sempat setelah selesai berlangsungnya discussion paper, saya termenung...sungguh sebagai minoritas, saya sangat merasa diuntungkan dengan adanya forum interfaith dialogue seperti ini...saya merasa didengarkan, dipahami dan terlebih diakhir forum semua suara dijaring untuk diusulkan menjadi sebuah kebijakan. Sempat seorang peserta mengatakan padaku bahwa baru2 inilah orang2 Muslim mulai bersuara dan ini merupakan potensi yang baik agar2 hak2nya juga keinginan2nya diketahui, dipahami dan kemudian dapat diakomodasi pemerintah. Mungkin memang fenomena di kebanyakan negara dimana Muslim menjadi minoritas lebih memilih untuk mengisolir diri, daripada mencoba berbaur dengan mayoritas.

Kiranya, orang2 Islam sebagai mayoritas di Indonesia yang kadang begitu 'angkuh' untuk menerima kaum minoritas di negaranya, tak ada salahnya untuk mencicipi hidup sebagai minoritas. Selalu, mempersepsikan minoritas sebagai manusia yang memiliki hak yang sama dengan mayoritas adalah tak pernah ada ruginya...

with love, yunes : 8:47 PM

0comment

Post a Comment



Sunday, October 26, 2008
Acara TV
“Boring!!” itulah kata2 dari salah seorang teman Indonesiaku mengomentari seorang Australian yang bertanya tentang program2 TV OZ. Ada benarnya memang, channel TV hanya ada sekitar tujuh. Programnya pun tidak se’meriah’ dan se’variatif’ di tanah air.

Namun, bayanganku akan kerinduan acara2 TV dirumah tidaklah benar-benar terjadi. Apa pasal? Banyak kutemukan acara2 Tv yang formatnya benar2 mirip atau bahkan sama persis seperti diIndo. Sebutlah bedah rumah (lupa edisi inggrisnya), seleb dance atau disini “dancing with the stars”, hole in the wall dengan nama yang sama, Australian Idol (kalo ini sama2 ngopi dari American Idol), the funniest animals, apa lagi ya...ohya deal or no deal!

Yang lagi booming disini adalah ajang “make me a supermodel” yang memang ditata apik dan sangat menarik. Beberapa waktu lalu, ditengah menyelesaikan assignemnt, iseng2 menyalakan TV sebagai teman begadang. Saat itu sekitar pukul 11.30pm. Sebuah acara membuatku terperangah sekaligus geleng2 kepala. Namanya “Beauty and the Geek”, sebuah reality show yang memadukan antara sensualitas dan ‘kecerdasan’. Sensual, karena pesertanya adalah model2 ‘dewasa’ seperti model sampul majalah playboy, model bikini, dan sebangsanya lah...’cerdas’, karena peserta cowoknya adalah orang2 yang dianggap lebih dari sekedar pintar. Contohlah seperti mahasiswa Harvard, pemenang lomba sains, dan sebangsanya pula....

Format acara ini lucu2 wagu dan menurutku terlalu dipaksakan, meski memang memaksaku ketawa, cewek ‘seksi’ dan 5 cowok ‘cerdas’ (masing2 berpasang2an) sebuah perpaduan yang bias tapi yah begitulah industri hiburan..memadukan 2 kategori manusia yang imagenya memang bertolak belakang, berkompetisi memenangkan berbagai macam permainan. Hm...
Satu lagi acaranya bos playboy Hugh Hefner bersama his girlfriendsnya di Mansionnya. Kehidupan glamor dan lagi2 ‘naked’ disuguhkan selama setengah jam di tengah malam.

Hm, ....

with love, yunes : 6:30 PM

1comment

wah....blognya rame. salam kenal :)

dari: Blogger Akhyari;--- November 17, 2008 12:26 AM

Post a Comment



Thursday, October 23, 2008
Jipang dan tempe
Beberapa hari sebelum lebaran yang lalu, kusempatkan telepon rumah (dah jadwalnya kaleee, minimal seminggu sekali telp rumah). Terbetik pertanyaan untuk ibu ttg masakan spesial apa yang bakal ibu suguhkan ke tamu. “Soto Sokaraja!” jawab ibuku. Hm..membayangkannya membuat air ludahku hampir saja menetes (alah!). Sontak Ibu juga menanyakan hal serupa ke aku, masak apa lebaran nanti. Asal aja aku menjawab “goreng tempe.” Ha??

Emang sich asal jawab. Tapi lebaran dengan suguhan spesial tempe sebenranya bukanlah hal yang ‘memalukan’ (dalam kacamata ibuku) bagi orang2 perantauan macam aku. Pasalnya, jenis makanan ini adalah termasuk jenis makanan mahal di OZ selain tahu. Bayangkan untuk satu potong tempe yang biasanya aku beli di pasar Rejodani seharga 1000 rupiah, disini dihargai $2.80, bandingannya dengan 2 kg sayap ayam yang hanya mencapai $4.5 atau 1kg daging yang Cuma $9.

Barang2 mahal lainnya adalah terong dan jipang. Terong perkilonya bisa mencapai $7, sementara jipang satu butirnya $2.50 (alamak, dipasar rejodani aku biasa beli 500 perak aja). Tapi namanya kangen makanan rumah, mahal2 juga sekali2lah memanjakan lidah...ohya satu lagi kangkung. 3 bulan lalu aku sempet beli seikat kecil kangkung seharga $3. Bahkan temenku cerita kalo dia sempat beli dengan harga $4.50 untuk beberapa helai saja. Jadi mbatin nich, bakal balas dendam tuch kalo dah nyampe rumah....

with love, yunes : 2:25 PM

0comment

Post a Comment



Sunday, October 19, 2008
Buku Murah Meriah!

Sekitar dua bulan sebelum ke OZ, aku berkesempatan menonton film Memoirs of Geisha dikos seorang teman. Sedikit telat memang, karena film dah lama dirilis, apalagi bukunya. Belum sempat membaca bukunya, membuatku memang sangat ‘diburu’ untuk melihat filmnya. Ada keinginan sebenernya untuk membeli buku ini, tapi selalu tak berkesempatan.

Nah, dua minggu lalu, ketika berjalan2 di Sunday Market, ditengah banyak gelaran dagangan, menyempil sebuah buku yang memaksaku membelinya. Yup, “Memoirs of Geisha” edisi asli lagi. Yang lebih menggembirakan, buku apik ini hanya dijual $2, bener2 dech!!!


Lagi, minggu pagi kemaren juga kusempatkan berjalan2 ke Sunday Market setelah seminggu hanya berkutat dengan assignment. Refreshing ceritanya...Ditengah melihat kesana kemari gelaran dagangan, mataku tertuju pada sebuah buku mungil karya Dan Brown "The Da Vinci Code", edisi asli pula. Tertulis di gelaran dagangan si mas bule "all book marked 1/2 price". Wah, karena di buku Dan Brown tertulis $6 (dari harga asli $20), pastilah bakal jadi cuma $3. Murah meriah, buku asli pula!! berapa tuch kalo dijual di Indo...bisa 200an ribu.

Tak diduga tak dinyana, harga buku jauh dari perkiraanku. Si mas bule bilang, karena pagi ini buku dia laku banyak, dia kasih buku itu ke aku dnegan hanya seharga $1. Alamaaaakk...baik bener mas bule nich...Jadilah, tak berkesempatan beli buku terjemahannya di Indo, dapet buku aslinya..plus murah meriah lagi!!!

with love, yunes : 6:07 PM

0comment

Post a Comment



Victor Harbour

Tradisi ‘plesiran’ sehabis lebaran memang kayaknya jadi kewajiban (lihat linknya si Abik tuch!!). Nah, ini juga yang hinggap di aku lebaran kali ini. Meski tradisi ini gak begitu terlaksana kala di Indo, di OZ malah kayaknya jadi kewajiban tersendiri.

Kali ini yang beruntung aku kunjungi adalah Victor Harbour, sebuah pantai indah sekaligus pulau granitnya. Asal usul punya cerita, sebenernya plesir kali ini memang sudah direncanakan 3 bulan lalu. Plesir ‘keakraban’ istilah teman2 waktu kuliah duluuu. Sebuah acara yang diadakan SLC (Student Learning Centre) bagi mahasiswa2 baru AUSAID.


Sebagaimana tahun2 sebelumnya, biasanya trip ini diadakan pas setelah acara IAP (Introductory Academic Program) kelar. Namun karena 3 bulan lalu masih winter, acara pun sesuai kesepakatan diundur dipertengahan oktober sekalian menunggu keluarga yang pada mo datang.

Sekitar satu jam lamanya perjalanan dengan bis kami tempuh. Beberapa kali ditengah jalan, bapak sopir memberhentikan kami disebuah bukit dengan latar belakang kota adelaide terlihat dari ketinggian. Proyek narsispun terjadilah, jeprat jepret senyum sana senyum sini.


Tujuan berikutnya adalah Urimbila Wild Life Park, kehidupan bebas fauna asli OZ. Dengan hanya membayar $4 perkepala, kami dibekali satu kantong makanan buat ‘penghuni’nya plus muter2 sembari jeprat jepret lageeee. Nggak begitu mengesankan buatku, karena ketemu dengan Kangguru, koala, dingo, wallabi sudah beberapa kali kulakukan…


Satu jam melihat kehidupan habitat asli OZ, perjalananpun dilanjutkan ke tujuan utama Victor Harbor. Pantai biru, Granite Island, lunch ditengah laut, onta2 pantai, ‘dokar’ unik menjadi pemandangan tersendiri yang sangat mengesankan. (pengin cerita panjang...tapi maaph dah ngantukkkk...dilanjutin besok lagi ya....)

with love, yunes : 5:22 PM

0comment

Post a Comment



3 bocah "mbethik"!
Photobucket

Bocah mbethik2 ini tidak saja mbethik di masa mudanya, tapi tetep saja mbethik di masa 'mak-maknya'...alah!!!

with love, yunes : 5:06 PM

0comment

Post a Comment



Si Nenek, temanku
“Hello Yuyun, how is your assignment going?” sapa Julie, seorang teman Australiku di kelas Skills in Social Research. Julie adalah satu dari teman-teman kelasku yang berusia lebih dari 60 tahun alias lanjut. Enerjik, selalu serius menyimak dosen mengajar dan selalu mengumpulkan assignment tepat waktu.

Suatu ketika aku bertanya tentang apa sebenernya yang diinginkannya dari bangku kuliah (maklum jalan pikiranku masih beralur Indonesia yang melihat orang2 sepuh macam Julie selalu bergerak dari rumah cucu dan mushalla). Dalam budaya tradisionalku, sangat jarang atau bahkan langka seusianya masih mencicipi bangku kuliah, yang ada adalah para professor tua yang datang ke kampus untuk mengajar bukan diajar.

Tapi itulah Julie, Barbara, Judie dan beberapa mahasiswa lanjut di kelas lain. Ditengah rasa penasaranku, kuberanikan diri bertanya lebih dalam ttg hal tersebut (sesuatu yang mungkin tabu di awal perkenalan dalam budaya sini). Jawabannya sungguh mengejutkanku, meski sebenernya sudah kuduga. “I had looked after my children for many years, so why should I look after their children?” Hm...dalam pandangan Julie, telah cukup baginya mengasuh anak2nya selama bertahun2, jadi bukanlah tugas dia juga untuk mengasuh cucu2nya. Sebagaimana ia mengasuh anak2nya dengan penuh perjuangan, begitu pula yang harus anaknya lakukan untuk cucu2nya.

Saat ini, menurutnya, adalah saat dimana ia melakukan sesuatu yang dia inginkan namun tak ia dapat diwaktu mudanya: kuliah. Tidak ada kewajiban bagi Julie untuk tamat tepat waktu karena desakan sponsor, tidak juga tugas belajar dari kantor atau bahkan kuliah untuk menadapatkan pekerjaan yang lebih baik atau promosi jabatan. Semangatnya untuk datang kekelas, mendengarkan dengan cermat kata demi kata dosen, keaktifannya berkontribusi dikelas semata-mata adalah keinginannya atas landasan ‘tanpa embel2’.

Julie bilang kita hanya punya tradisi yang berbeda, ketika aku katakan padanya akan keterkejutanku menemukan beberapa orang lanjut usia kuliah di S1. Julie bahkan bilang, ada seorang kakek berusia 92 tahun yang baru2 ini lulus doktor di University of Adelaide. Sungguh semangat belajar yang tak pernah terlintas dalam bayanganku...

with love, yunes : 5:01 PM

0comment

Post a Comment













About Us

YI'm Yuyun Sunesti
YZainal Anwar's wife
YHome: Sleman Jogja

Previous Posts
Archives
Chit-Chat



Links
Supported By